Glorifikasi Kerja Keras dan Segala Hal yang Kubenci Tentangnya

Apa hal paling “mati-matian” yang pernah kalian lakukan dalam hidup?

Kalau dapat pertanyaan seperti itu, satu-satunya hal yang bisa aku pikirkan adalah waktu aku belajar untuk UN SMP. Dan aku baru berani mencap itu sebagai suatu proses yang “mati-matian” karena hasilnya juga memuaskan. Tapi, selain itu? Rasanya gak ada, deh.

Belum lama, aku menyimak cerita salah seorang tua yang anaknya baru masuk universitas setelah 2 tahun gap year. Beliau bercerita tentang bagaimana anaknya setiap hari belajar non-stop, bahkan hanya dapat tidur 2–3 jam di atas sajadah. Tanpa bantuan bimbel karena keterbatasan finansial, si anak hanya mengandalkan ponselnya yang hampir soak karena terus-terusan dipakai untuk menonton materi pembelajaran di Youtube dan buku tulis yang persediaannya terbatas sehingga dia harus hemat kertas. Akibatnya, matanya sampai minus 4.

Selain cerita itu, aku hanya bisa mendengar ibuku yang terus-terusan menunjukkan kekagumannya terhadap kerja keras anak tersebut. “MasyaAllah…,” “Keren banget anaknya, pak,” “Hebat semangatnya, ya.” Lalu ada aku yang membatin, duh, gawat.

Seumur hidupku, aku belum pernah berjuang mati-matian seperti anak yang diceritakan orang tua tadi. Sedangkan ibuku adalah salah satu orang yang menganut prinsip “proses lebih penting dari pada hasil.” Tentu saja, konsep itu tidak salah karena hasil bisa dimanipulasi, sedangkan proses tidak.

Tetapi, hanya karena prosesnya tidak 200% atau bahkan 300%, apakah kemudian usaha seseorang menjadi kurang bernilai dan dapat diremehkan? Apakah seseorang harus melewatkan jam tidurnya, meninggalkan jadwal makannya, dan melupakan waktu untuk bersenang-senang hanya demi “mati-matian” mencapai sesuatu dan supaya usahanya tidak direndahkan? Untuk lalu dijadikan pengalaman yang diceritakan ke orang lain dengan nada penuh rasa sengsara yang memprovokasi rasa iba? Atau nada yang memotivasi tetapi memprovokasi penyesalan di benak banyak orang?

Manusia terlahir dengan kemampuan dan kapasitas yang berbeda-beda. Ada yang harus mati-matian berusaha tetapi masih belum bisa menikmati hasilnya, ada yang hanya perlu menggeser jarinya dan apa yang dia harapkan terwujud. Kemampuan dan kapasitas masing-masing manusia pun dipengaruhi oleh dua hal, materil dan mental.

Aku terlahir dengan otak yang lumayan encer jika dilihat dari prestasi sekolahku sejak TK sampai SMA. Semua prestasi itu aku dapatkan tanpa perlu bersusah payah membayar les ataupun bimbel yang mahal dan aku masih bisa mendapat jam tidur yang cukup. Tapi, tumbuh besar dengan prinsip yang ibuku anut tadi, meremehkan diri sendiri menjadi kebiasaanku, gak peduli seberapa bagus prestasi dan hasil yang kudapat, aku selalu merasa tidak cukup karena usahaku tidak pernah “mati-matian.” Imposter syndrome, namanya, teman baikku.

Orang-orang memiliki nilai dan prinsip hidup yang berbeda-beda. Bagiku, nilai sekolah dan reputasi universitas bukan lagi hal yang penting. Memahami diri sendiri, mempelajari perilaku orang lain dan mencari arti hidup jauh lebih sulit dan berarti bagiku dan hal itulah yang ingin aku perjuangkan. Aku yakin kalian pun punya nilai dan prinsip berbeda yang ingin kalian perjuangkan.

Masalahnya adalah orang-orang selalu mengglorifikasi kerja keras yang hanya menghasilkan hal-hal yang bersifat materiil, tetapi selalu menganggap remeh kerja keras yang dilakukan demi mencapai kedamaian mental.

Pernah dengar ungkapan uang tidak bisa membeli kebahagiaan? Itu salah satu kebohongan terbesar yang pernah kudengar dalam hidup. Uang tentu bisa membeli kebahagiaan dan karenanya aku paham mengapa orang mengejar hal-hal materiil. Tetapi tidak semua kebahagiaan bisa dibeli dengan uang. Persetan dengan pergi ke pulau Bahama dan berenang bersama lumba-lumba, mengunggah foto ke Instagram dan hidup nyaman seperti orang paling beruntung di dunia. Mungkin memang beruntung. Tetapi, kalau kamu depresi, apakah keberuntungan itu dapat benar-benar berarti dalam hidup?

Jika seseorang “mati-matian” berusaha demi mengejar hal materiil, sah-sah saja. Tetapi seringkali orang melupakan bahwa “mati-matian” dapat menggores mental, padahal kita tetap bisa hidup dengan baik tanpa harus benar-benar berkorban banyak. Apalagi mengorbankan mental sendiri.

Grow at you own pace” memang sebuah nasihat yang terdengar klise, tetapi krusial. Daripada membandingkan diri maupun orang lain dengan orang yang lainnya. Rasanya, membandingkan progres demi progres yang sedang kita perjuangkan jauh lebih penting. Dibandingkan mengikuti orang lain ber”mati-matian”, rasanya lebih baik mempelajari caranya mengusahakan sesuatu dengan efektif yang sesuai dengan kapasitas kita.

Apakah kamu akan menyangkal tulisan ini dengan ungkapan “jangan mudah merasa cukup.” Lalu apa? Serakah? Selalu menginginkan yang lebih? Bukankan dua hal itu malah merupakan hal yang menghancurkan dunia? Membuat manusia menghalalkan segalanya demi selalu mendapatkan sesuatu yang lebih? Aku yakin manusia akan berkembang sesuai dengan kebutuhannya. Menang olimpiade nasional belum cukup? Kalau begitu maju ke jenjang internasional. Dapat B di rapot sudah cukup? Kalau begitu alihkan tenagamu ke hal yang lain yang belum tercukupi.

Sebagai makhluk yang hidup dalam komunitas yang kompleks, manusia selalu membutuhkan sesamanya dan juga faktor X. A anak yang rajin mengikuti lomba, selalu mereview materi tiap malam dan selalu berhasil memenangkan lomba yang ia ikuti. Sedangkan B, mengerjakan tugas sekolah saja rasanya sulit, apalagi mengejar lomba. Lalu, apakah A lebih baik dari B dan B lebih buruk dari A?

Bagi A, memenangkan lomba dapat membahagiakannya karena kemenangannya selalu disambut meriah oleh keluarga dan teman-temannya. Sedangkan bagi B yang sulit dalam bergaul dan memiliki konflik rumit dengan keluarganya, sudah bisa menertawakan sesuatu saja sudah merupakan pencapaian yang baik. A dan B memiliki nilai, prinsip dan pandangan yang berbeda dalam hidup. Dan tidak ada yang lebih baik maupun lebih buruk.

Aku benci glorifikasi kerja keras. Rasanya seakan manusia harus menderita untuk harus bahagia — walaupun tidak sepenuhnya salah, sih. Tetapi kalau ada pendekatan yang lebih manusiawi terhadap kesuksesan dan kebahagiaan, apakah kita tetap harus memilih pendekatan yang menyiksa? Hanya supaya kita terlihat sudah berkorban banyak, dan lebih pantas mendapatkan hasil yang kita dapat?

Karena sejatinya kalau kita benar-benar menikmati suatu hal, rasa lelah dan penderitaan akan menjadi angin lewat yang tidak kita gubris. Pengalaman yang kita ceritakan akan terdengar seperti serangkaian pembelajaran yang membuat kita tersenyum. Tetapi jika kamu bercerita bagaimana kamu “mati-matian” berjuang dan bersimbah darah seakan itu hal terburuk yang perlu orang lain kagumi dengan alis berkerut, kamu akan terdengar seperti orang yang terpaksa untuk melakukan hal itu. Dan itu terlihat menyedihkan.

Kalau ingin mengglorifikasi kerja keras, sembahlah dua hal tadi. Jangan hanya materiil atau hanya mental. Sembah keduanya. Dasar kapitalis.

17. A student and aspiring photographer. I want to work on National Geographic or UNICEF.

17. A student and aspiring photographer. I want to work on National Geographic or UNICEF.