Mengapa Gen Z sangat heboh dengan kesehatan mental?

Selama beberapa tahun terakhir, self-diagnosing kondisi mental telah menjadi tren di kalangan Gen Z (gen. yang lahir antara 1997–2015), di samping itu, jumlah akun Instagram yang ditujukan untuk berbagi kesadaran tentang kesehatan mental semakin bertambah dan bukan rahasia lagi bagi kita semua bahwa orang-orang di belakang akun-akun tersebut kebanyakan adalah para remaja.

Kutulis artikel ini karena aku juga bagian dari Gen Z dan aku ingin tahu lebih banyak tentang isu ini; apa yang membuatnya begitu menarik, kenapa ini bisa menjadi suatu tren, dan apa yang mungkin bisa membantu kita meminimalisir dampak negatifnya.

Pengingat: Jangan melakukan diagnosis mental secara mandiri. Pastikan untuk memperhatikan dan menyadari perubahan emosi yang terjadi dan jika kondisi mental kalian mengganggu kehidupan sehari-hari, cari bantuan profesional.

Dr. Elena Mikalsen, kepala bagian Psikologi di Rumah Sakit Anak San Antonio di Texas mengatakan, “Ini adalah epidemi. Ini darurat kesehatan mental,” yang mengacu pada Gen Z, tidak heran jika generasi ini dinobatkan dengan gelar “ Generasi paling tertekan ”, menggantikan generasi Milenial yang pernah menduduki “singgasana” sekitar tahun 2010-an.

Menurut American Psychological Association, 91% orang dewasa Gen Z pernah mengalami setidaknya satu gejala emosional atau fisik karena stres, seperti depresi dan kurangnya motivasi dan energi. Untuk mendapatkan pandangan yang lebih luas tentang ini, saya mencoba mencari survei global dan laporan dari Deloitte mengatakan 48% Gen Z merasa cemas atau stres sebagian besar waktu, melebihi jumlah Milenial yang mendapat angka 44%. Seharusnya, fakta tersebut sudah dapat menjelaskan mengapa Gen Z memiliki fokus yang begitu intens terkait kesehatan mental, tetapi melihat angka Milenial yang hanya memiliki selisih 4%, apa yang membuat Gen Z begitu berbeda?

Jawabannya bisa jadi adalah internet. Grafik survei di samping menunjukkan bahwa tuntutan untuk mendapatkan nilai bagus adalah sumber tekanan terbesar, sementara itu, aku yakin kalian bisa melihat banyak pelajar yang mengeluh tentang cara kerja sistem pendidikan dan bagaimana sistem tersebut tidak membantu mereka meningkatkan kualitas pembelajaran. Dalam hal ini, pengetahuan di internet yang tidak mereka dapat di sekolah berperan dalam membuat mereka menyadari bahwa ada sesuatu yang salah. Melalui internet, baik itu artikel atau e-journal, atau hanya forum diskusi, mereka dapat mengetahui apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Dari situ, maklum jika mereka menuntut perubahan.

Dan cara termudah untuk membuat perubahan di zaman ini adalah dengan mengoptimalkan penggunaan media sosial. Gratis, mudah diakses, dan kita dapat membuat apapun hanya dengan sekali klik. Media sosial adalah platform yang memiliki audiens terbanyak di internet, berdasarkan laporan dari we are social x Hootsuite, orang bahkan membaca berita dari media sosial alih-alih dari outlet berita yang sebenarnya (dan inilah sebabnya hoaks mudah sekali tersebar, kawan).

Gen Z adalah generasi yang menghabiskan waktu layar paling banyak di media sosial, menghabiskan rata-rata 2 jam 55 menit per hari. Gen Z juga merupakan generasi pertama yang sejak lahir selalu didampingi internet. Wajar jika mereka berpikir bahwa suara mereka akan lebih mudah didengar melalui media sosial, hal yang sudah sangat lekat dengan kehidupan sehari-hari mereka.

Secara pribadi, aku mulai memperhatikan kesehatan mental-ku dengan belajar filosofi, para orang dewasa biasanya akan berkata, “Kamu ‘kan baru 16 tahun? Gimana caranya belajar filsafat dan buat apa?” Kalau tebakan kalian aku mempelajari filsafat dari Twitter, kalian benar. Nah, dibandingkan 15 tahun lalu, menurut kalian apakah ada remaja 16 tahun yang mempelajari filsafat di luar sekolah? Mungkin, ya, tetapi jumlahnya pasti tidak sebanyak sekarang.

15 tahun lalu, kesehatan mental juga merupakan hal yang masih sangat tabu. Cukup sulit untuk menemukan literasi ilmiah yang membahas topik tersebut. Bahkan jika ada buku tentang itu, kesehatan mental bukanlah sebuah tren pada masa itu dan kebanyakan orang tidak akan membelanjakan uang mereka untuk sesuatu yang memiliki stigma negatif, tidak seperti sekarang, dimana kita dapat mempelajarinya hanya menonton video TED-Ed di Youtube yang hanya memerlukan kuota internet dan cenderung berdurasi singkat, tetapi tetap dapat merangkum hal-hal umum yang perlu kita ketahui.

Laporan dari Common Sense Media menemukan bahwa remaja lebih tertarik pada media sosial daripada interaksi di kehidupan nyata mereka.

Laporan di atas mungkin juga menjadi alasan mengapa aktivisme online sangat gencar di kalangan Gen Z. Remaja di zaman ini mengkonsumsi media sosial secara gila-gilaan. Di satu sisi, hal ini bagus karena content creator edukasi bisa mendapatkan banyak audiens dan para pengguna dapat dengan mudah menemukan organisasi sosial atau gerakan yang mereka minati. Di sisi lain, kita sudah paham betul kecanduan tersebut dapat memicu hal-hal yang tidak diinginkan.

Tetapi, itulah inti dari aktivisme online. Aktivisme online adalah sebuah siklus. Semakin banyak orang yang menyadari betapa problematic-nya suatu hal, semakin banyak orang yang akan berusaha dan terpacu untuk memperbaiki hal tersebut dan membuatnya lebih baik. Setiap ada berita buruk yang muncul, aktivisme memastikan bahwa hal baik akan menyusul. Kita hanya perlu menjaga dua hal itu supaya tetap seimbang.

Jelas terlihat bahwa kemudahan akses dan fasilitas yang tersedia di era ini membantu generasi muda belajar lebih banyak, menjadi familier dan sadar dengan segala sesuatu yang terjadi di sekitar mereka, tidak hanya tentang kesehatan mental. Tetapi, dalam proses menulis artikel ini, kupikir media sosial, internet atau fasilitas lainnya hanyalah sebuah faktor X. Rasa ingin tahu, keinginan untuk belajar dan kemampuan berpikir kritis akan tetap menjadi alasan utamanya, di era manapun. Dan syukurnya, sepertinya hal-hal tersebut akan meningkat seiring berjalannya peradaban.

17. A student and aspiring photographer. I want to work on National Geographic or UNICEF.

17. A student and aspiring photographer. I want to work on National Geographic or UNICEF.