Ada yang nangis, ada juga yang bilang #SaveRalph cuma buat nakut-nakutin orang. Aku nangis — tapi, skeptisisme yang udah dibentuk sama dunia ini ngedorong aku buat baca-baca lagi tentang animal testing untuk nunjukkin ke orang kalau hal ini bukan cuma sekedar trend. Which is why I’m writing this.

Short film yang disuguhkan sama The Humane Society International menggambarkan kehidupan kelinci yang harus ngejalanin animal testing buat produk kosmetik. Mata yang buta setengah, satu telinga yang terus-terusan berdenging dan bulu yang dicukur botak diilustrasikan buat menunjukkan gimana rasanya kelinci harus “dilukai” atas nama kecantikan (kecantikan manusia tentunya). Dalam film tersebut, Ralph si kelinci juga cerita kalau seluruh keluarga kelincinya juga mati karena hal yang sama. Dari sini, aku nyimpulin kalau kelinci dan hewan-hewan lainnya ada yang memang dikembangbiakkan hanya untuk kepentingan laboratorium.

Dan simpulanku gak salah, kalau baca salah satu artikel Stanford Medicine, sebagian besar hewan yang dibutuhkan untuk penelitian memang secara khusus dibiakkan dan biasanya mereka hewan pengerat. Di AS, jumlahnya bisa mencapai 20 juta pertahunnya. Kelinci biasanya 20 ribu. Sementara anjing, kucing dan primata non-manusia masuk ke dalam porsi 1%.

Ilmuwan pastinya gak melakukan animal testing ini tanpa alasan. Vaksin berhasil dikembangkan untuk pertama kalinya berkat sapi yang dijadikan sampel. Anjing, monyet, dan tikus juga membantu membuktikan kalau vaksin polio itu efektif — membantu dengan menjadi tumbal tentunya. Penyakit-penyakit berat seperti malaria, Alzheimer bahkan HIV/AIDS juga berhasil ditemukan obatnya karena penelitian melakukan animal testing ke primata, monyet-monyet.

Banyak argumen kontra yang kekeuh kalau hewan itu beda sama manusia. Tapi, argumen ini juga udah sering dibantah sama fakta ilmiah kalau DNA hewan dan manusia itu sama. Kalian bisa baca banyak artikel di internet yang memuat info kalau DNA tikus itu 98% sama dengan DNA manusia, sedangkan angka kemiripan DNA manusia dengan simpanse justru lebih tinggi: 99%. Sebagian besar organ dalam pada mamalia juga mirip sama manusia.

Tapi ternyata, hampir 96% animal testing gagal dan gak bisa dipakai manusia. Pada akhir 1950an sampai awal 1960an, banyak anak yang harus lahir tanpa lengan karena sewaktu hamil, ibunya sering mengkonsumsi obat Thalidomide buat ngobatin morning sickness. Padahal, saat masih dites di hewan, obat tersebut gak ngasih efek samping separah itu.

Para peneliti di Stanford Medicine — pusat penelitian yang sangat kredibel dan relevan — mengklaim kalau mereka memperhatikan kesejahteraan hewan (Animal Welfare) dan secara ketat mengikuti guideline animal testing. Tapi, tidak ada yang bisa ngasih jaminan kalau ribuan laboratorium lainnya ngelakuin hal yang sama. Bahkan, USDA’s Animal Welfare Act juga belum bisa melindungi 95% hewan yang dipakai untuk animal testing.

Tapi, mungkin gak sih, sains bisa maju tanpa mengorbankan hewan? Menurutku, nggak. Kalaupun jawabannya iya, kemajuan sains pasti bakal jadi lambat banget.

Jadi, animal testing dan animal cruelty bisa dijustifikasi dan dimaklumin? Ya nggak juga.

Terlepas dari kemustahilan buat nge-stop animal cruelty sepenuhnya, cara alternatif seperti cell culture, human tissues, computer models dan volunteering manusia (menurut Cruelty Free International) selalu bisa dijadikan pilihan — tapi, ya, alternatives will be alternatives.

Kiri: Cruelty Free International; Tengah: PETA, AS; Kanan: Choose Cruelty Free, Australia.

Aktivis hewan udah sejak lama mengadvokasi animal testing ban, dan syukurnya, animal testing ban telah diterapkan di 40 negara hingga saat ini. Banyak juga brand yang mulai melabeli produk mereka dengan label “No Animal Testing” dan “Cruelty Free.” Brand-brand yang tidak mempunyai label tersebut justru cenderung sering terkena boikot.

“Tren” #SaveRalph kemarin menyebabkan boikot massal kecil-kecilan terhadap beberapa brand tertentu. Akibatnya, banyak orang yang berasumsi kalau #SaveRalph itu cuma berniat untuk menjatuhkan brand-brand tersebut, tapi, itu tetap tidak menghapus fakta bahwa ada hewan di luar sana yang menderita di tangan manusia, hanya supaya manusia dapat hidup dengan nyaman.

Bisa dibilang untung dan rugi dari animal testing ini lumayan seimbang. Masalah keputusan pro/kontra lagi-lagi kembali ke tangan masing-masing individu. Tulisan ini pun gak ditujukan untuk menggiring opini ke salah satu sisi.

Tapi, untuk menutup tulisan ini, aku punya satu pertanyaan:
Kalau ada cara yang gak menyebabkan rasa sakit ke makhluk hidup, kenapa masih harus memakai cara yang menyakiti?

17. A student and aspiring photographer. I want to work on National Geographic or UNICEF.

17. A student and aspiring photographer. I want to work on National Geographic or UNICEF.